Untuk dapat memahami kenapa konsep manajemen proyek bermasalah, kita harus melihat definisinya terlebih dahulu.

project (n): A project is temporary in that it has a defined beginning and end in time, and therefore defined scope and resources.

Menurut Project Management Institute (PMI), manajemen proyek didasari oleh scope, schedule dan budget yang telah dikunci. Asumsinya adalah masa depan bisa tidak berubah dan perencanaan yang matang dapat merubah masa depan menjadi statis.

Konsep berpikir dari sudut pandang proyek mungkin masuk akal dalam proyek konstruksi bangunan, namun dalam software development cara berpikir seperti ini memiliki masalah dan seringkali menggiring orang-orang untuk memiliki perilaku yang salah. Yang lebih bermasalah lagi, orang-orang tidak memandang perilaku tersebut lumrah.

1. Memandang masa depan sebagai sesuatu yang statis

We project a straight line only because we have a linear model in our head.
 — Nelson Goodman

Seseorang ketika didoktrin dari kuliah hingga sepanjang karirnya kalau Unicorn itu ada maka dia akan hidup memercayai kalau Unicorn itu ada dan dia akan berusaha untuk mencari Unicorn sampai ia mendapatkannya sebodoh apapun mungkin itu kelihatannya. Buku-buku manajemen proyek seperti PMBoK mengajarkan kalau masa depan itu dapat diprediksi dan dapat dikunci. Banyak manajer proyek yang hidup dalam dunia mimpi kalau scope, budget dan schedule dapat dikunci dan masa depan dapat diprediksi dengan melakukan perencanaan yang sangat lama. Pola pikir ini sudah tidak sesuai lagi dengan era abad 21 yang kompleks dan cepat berubah. Kalaupun kita harus berdebat dengan manajer proyek perihal ini, itu karena mereka sudah sangat percaya kalau Unicorn itu ada.

The past is finite, the future is infinite. The past is static, the future is dynamic. The past is defined, the future is random. We can not trust ourself in predicting the future and we can not trust ourself how we interpret the past. In 21st century invest in preparedness not in planning.

2. Otoritas terpusat

Managers love empowerment in theory, but the command-and-control model is what they trust and know best.
 — Chris Argyris

Konsep manajemen proyek menaruh otoritas terpusat pada manajer proyek. Manajer proyek adalah orang yang diberikan tanggung-jawab untuk suksesnya proyek. Walaupun konsep centralised authority kelihatannya bagus di atas kertas secara praktik konsep ini memiliki banyak masalah. Centralised authority membuat software developer memiliki sense of ownership yang rendah. Mereka akan patuh terhadap perintah yang diberikan namun mereka tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap software yang dikembangkan.

Selain masalah sense ownership konsep manajemen proyek juga memiliki masalah di sisi collective intelligence. Konsep manajemen proyek yang kebanyakan dianut saat ini menggunakan push-system dimana software developer di-assign pekerjaan oleh manajer proyek. Orang tidak akan lebih komitmen terhadap komitmen yang telah dibuat oleh orang lain. Dengan push system, perusahaan telah menyia-nyiakan collective intelligence yang ada di dalam perusahaan karena orang-orang tidak dilibatkan dalam pembuatan keputusan.

Di abad 21 ini paradigma kita seharusnya mulai bergerak dari hanya memiliki orang-orang yang hanya datang ke kantor untuk mendapatkan gaji bulanan ke memiliki orang-orang yang memiliki sense of ownership yang tinggi bukan hanya terhadap software yang dikembangkan namun juga terhadap perusahaan. Selain meningkatkan sense of ownership dari para pegawai kita juga bertanggung-jawab untuk memaksimalkan collective intelligence yang ada di dalam perusahaan.

3. Deadline / Schedule Driven

Manajer proyek bertanggung-jawab untuk memproteksi schedule karena memang success factor seorang manajer proyek adalah on-schedule, on-budget dan on-scope. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh ukuran yang diberlakukan terhadap dia. Oleh karena itu perilaku manajer proyek lebih fokus ke schedule, scope dan budget.

Lagi-lagi konsep iron triangle ini kelihatannya secara teori di atas kertas bagus, namun memiliki banyak masalah dan mengarahkan perilaku seseorang ke arah yang salah. Di dalam iron triangle ini kita tidak bisa melihat value dari product sebagai success factor oleh karena itu orang hanya fokus pada schedule, budget dan scope. Proyek software yang on-schedule, on-budget dan on-scope belum tentu menghasilkan nilai untuk perusahaan. Seberapa sering kita melihat proyek software yang hanya berakhir pada kostumer yang tidak mau atau tidak bisa menggunakan software yang telah dikembangkan walaupun software tersebut telah dihantarkan on-schedule, on-budget dan on-scope. Karena schedule, budget, dan scope sudah dikunci, tidak jarang kita menemukan software developer yang memotong kualitas karena tidak ada lagi yang bisa dinegosiasikan. Karena kualitas begitu rendah, secara tidak langsung value dari produk juga menjadi rendah dan kostumer tidak bisa mencapai return on investment (ROI) yang diharapkan. ROI yang rendah sebenarnya juga sudah merupakan kegagalan dari proyek tersebut.

Di abad 21 perilaku orang-orang seharusnya lebih product focused yang memberi solusi kepada kostumer daripada project focused yang deadline/schedule driven. Fokusnya adalah bagaimana kita bisa menghantarkan value kepada kostumer setinggi mungkin lewat produk yang dikembangkan.

4. Penuh dengan kebohongan

You [corporates] did have superstar developers, we hired them from you and got out of the way.
 — Adrian Cockroft

Konsep manajemen proyek membuka celah untuk menggiring orang-orang, mulai dari software developer itu sendiri hingga manajer proyeknya, untuk melakukan kebohongan.

Software developer akan memberi buffer setinggi mungkin terhadap estimasi karena dia diukur atas keakuratan estimasi sebuah pekerjaan. Bila dia tidak bisa deliver software sesuai estimasinya, ia akan dihakimi sebagai seseorang yang tidak komitmen terhadap proyek. Semakin senior software developer yang bersangkutan, semakin cerdas ia dalam memberikan buffer. Dan bila ia bisa selesai lebih cepat dari estimasi awal, dia pun tidak akan proaktif karena ia takut hasil pekerjaannya yang lebih cepat dijadikan benchmark baru untuk lama pengerjaan tugas oleh manajer proyeknya. Lagipula siapa yang ingin disalahkan terus-menerus sebagai seseorang yang tidak komitmen terhadap proyek? Bukankah jadi lebih baik untuk berbohong?

Manajer proyek pun akan memberi buffer lagi di atas estimasi yang diberikan oleh software developer. Manajer proyek telah belajar kalau software developer tidak pernah akurat dalam memberikan estimasi. Ketidak-akuratan tersebut akan berdampak buruk terhadap karir manajer proyek karena ia yang dipandang bertanggung-jawab terhadap suksesnya proyek. Namun hasil pembelajaran manajer proyek ini menuju ke arah perilaku yang salah bukan yang lebih baik. Manajer proyek memberi buffer dengan mengatas-namakan manajemen resiko, karena ia takut kostumer memberi denda apabila software tidak bisa dihantarkan sesuai estimasi.

Manajer proyek dan software developer pun menganggap memberi buffer adalah salah satu hal yang lumrah untuk dilakukan demi survival. Gara-gara sudut pandang proyek, vendor menjadi pintar berbohong agar bisa menghindari denda karena budaya yang dibangun adalah budaya saling menyalahkan dan defensif. Gara-gara kebohongan berlapis-lapis ini, kostumer jadi membayar nilai proyek lebih mahal dari semestinya.

5. Mengesampingkan aspek manusia

Di setiap keputusan yang dibuat oleh manajemen, di belakangnya ada asumsi mengenai sifat dan perilaku dasar manusia.

Aspek manusia adalah aspek yang hampir tidak pernah menjadi concern dalam manajemen proyek karena dalam iron triangle manajemen proyek aspek manusia tidak menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan. Fokus utama adalah bagaimanapun juga adalah scope, schedule dan budget. Tidak jarang karena fokus ini, aspek manusia jadi dikesampingkan. Push system diberlakukan karena software developer dianggap sebagai orang-orang yang tidak bisa bertanggung-jawab dan tidak tahu apa-apa mengenai kompleksitas proyek. Software developer diharapkan untuk lembur untuk mencapai schedule dan komitmen yang sudah ditentukan oleh orang lain. Lingkungan kerja begitu menakutkan dan tidak safe-to-fail untuk software developer mengarahkan software developer untuk pintar berbohong karena transparansi hanya akan berakhir pada masalah. Kebahagiaan software developer tidak pernah menjadi faktor yang penting.

Memanusiakan software developer tidak pernah menjadi topik bahasan di dalam konsep manajemen proyek, apalagi konsep developer experience. Di abad 21 ini software telah menjadi kebutuhan utama umat manusia. Software terbaik akan dihasilkan oleh software developer terbaik. Mari alihkan perhatian dari proyek ke software yang akan dikembangkan dan software developer yang ada dibelakangnya.



SOURCE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here